:: Tentang Mereka ::
July 22, 2009
Rasanya kelewat narsis ngomongin diri sendiri mulu. Segalanya tentang diri sendiri , keinginan sendiri, mimpi sendiri, cita-cita, tingkah, harapan, de-el-el, de-el-el. Seolah-olah setiap kata dalam blog ini berteriak: Look at me! I'm Hero, I'm The Best, I'm Super,I'm... ayam!
Cape deeech!
Enough! Sudah cukup tentang saya. Ini waktunya buat mereka. Orang-orang diluar saya. Orang-orang selain saya. Orang-orang yang salah satunya mungkin Anda.
Maka jangkauan pertama terantuk pada akar. Buah memang gak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Begitulah kata pepatah lama. Orang-orang pertama yang saya ingat adalah Ibu-Bapak.
Ibu, Siti Apeha. Perempuan ini, entah bagaimana saya menceritakannya. Segala sulur cinta bermuara kepadanya. Sungguh. Segala daya upaya tidak pernah cukup untuk mengimbangi kasihnya. Terlepas dari segala hal lumrah yang menyertai panggilan Ibu, mengandung sembilan bulan, menyusui, membesarkan.... sesungguhnya benang merah yang selalu mengikat kami lebih dari itu semua. Beliau lah makhluk pertama yang mengajari saya arti dari ketulusan dan kerja keras, sampai saat ini, selalu dan setiap saat.
Bapak, Supriyatna. Laki-laki pertama yang menjadi prototype diri saya, model, idola, dan pandu saya. Malam-malam ketika belia mata selalu berbinar mendengar kisahnya. Petualangan menaklukan belantara Jakarta saat usia beliau belum menginjak enam tahun. Keluasan visi, ketegaran hati, adalah warisan utamanya. Meski amarah sesekali menyeruak ketika ide-ide kami berbenturan dalam dialog argumentasi, tapi saya semakin sadar, semakin lama saya semakin mirip dengan beliau dan saya semakin, selalu mengaguminya. Bapak, yang seringkali saya bergumam kepadanya: betapa angkuh dan keras hatinya engkau..., darah beliau semakin luas mengalir dalam setiap pembuluh tubuh.
Guru, Pak Ketut, Bu Imas, Pak Djudju. Ketiganya sengaja dirangkai dalam satu. Sebab ketiganya sama memberi banyak warisan inspirasi dan ilmu. Ketiganya sama dalam satu dan banyak hal. Dedikasi yang sempurna untuk tanggung jawab dan kecintaan yang tulus pada kami, generasi muda, murid-muridnya. Pak Ketut, yang entah dimana dan bagaimana kondisi beliau sekarang, adalah orang pertama yang membuat mata saya terpesona pada gemerlap matematika dan sains. Bu Imas, meneruskan nyala pijar yang di pantik Pak Ketut. Dan Pak Djudju adalah cermin keseimbangan antara akal dan hati, antara keseriusan dan canda ria, antara iman dan logika. Terimaksih untuk kalian semua.
Kakek, Solihin. Inilah seseorang yang membuat saya tak sanggup berkata-kata keras apalagi kasar. Seandainya saya menjadi malaikat penjaga surga, maka beliau lah yang pertama kali akan saya masukkan kedalamnya. Beliau yang dengan kesederhaannya, ketika ia memahami alif, ia mengingatnya itu alif, ia membacanya itu alif, ia menggenggamnya itu alif dan pada malam-malam dalam keheningan ia berjingkat-jingkat seperti pencuri takut ketahuan,... mengamalkan alif.
Saya selalu mengingat kata-kata beliau: Ilmu yang bermanfaat adalah segala yang engkau tahu yang engkau amalkan di jalan Allah. Seperti engkau pergi kemasjid, menemukan paku, yang sepele tapi membahayakan, engkau tahu itu bisa saja terinjak orang, kemudian engkau buang, engkau singkirkan, maka pemahaman sederhanamu tentang paku yang berbahaya, itulah ilmu. Dan sangat baik sekali ketika engkau membuang paku dengan tangan kananmu, tangan kirimu tak perlu tahu, tak perlu pula engkau berbisik pada kaki bahwa hatimu berniat membawa mereka ke masjid.
Kawan dan saudara, banyak, tak terhingga. Mungkin salah satunya Anda. Orang-orang yang banyak memberi inspirasi kepada saya dan membuat semakin sadar bahwa saya adalah manusia seutuhnya. Memberi saya semangat dan kekuatan, menunjukan ilmu dan luasnya dunia, mengajari kesabaran dan kerendahan hati, memahami arti cita-cita dan harapan. Anda-anda makhluk luar biasa dengan segala kebaikan dan kemulian akhlak adalah orang-orang yang membuat hidup saya berarti dan semakin mengerti betapa beruntungnnya saya telah mengenal Anda semua. Terimaksih untuk Anda semua, semoga Allah memperkenankan saya membalas segala kebaikan Anda semua.
Cape deeech!
Enough! Sudah cukup tentang saya. Ini waktunya buat mereka. Orang-orang diluar saya. Orang-orang selain saya. Orang-orang yang salah satunya mungkin Anda.
Maka jangkauan pertama terantuk pada akar. Buah memang gak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Begitulah kata pepatah lama. Orang-orang pertama yang saya ingat adalah Ibu-Bapak.
Ibu, Siti Apeha. Perempuan ini, entah bagaimana saya menceritakannya. Segala sulur cinta bermuara kepadanya. Sungguh. Segala daya upaya tidak pernah cukup untuk mengimbangi kasihnya. Terlepas dari segala hal lumrah yang menyertai panggilan Ibu, mengandung sembilan bulan, menyusui, membesarkan.... sesungguhnya benang merah yang selalu mengikat kami lebih dari itu semua. Beliau lah makhluk pertama yang mengajari saya arti dari ketulusan dan kerja keras, sampai saat ini, selalu dan setiap saat.
Bapak, Supriyatna. Laki-laki pertama yang menjadi prototype diri saya, model, idola, dan pandu saya. Malam-malam ketika belia mata selalu berbinar mendengar kisahnya. Petualangan menaklukan belantara Jakarta saat usia beliau belum menginjak enam tahun. Keluasan visi, ketegaran hati, adalah warisan utamanya. Meski amarah sesekali menyeruak ketika ide-ide kami berbenturan dalam dialog argumentasi, tapi saya semakin sadar, semakin lama saya semakin mirip dengan beliau dan saya semakin, selalu mengaguminya. Bapak, yang seringkali saya bergumam kepadanya: betapa angkuh dan keras hatinya engkau..., darah beliau semakin luas mengalir dalam setiap pembuluh tubuh.
Guru, Pak Ketut, Bu Imas, Pak Djudju. Ketiganya sengaja dirangkai dalam satu. Sebab ketiganya sama memberi banyak warisan inspirasi dan ilmu. Ketiganya sama dalam satu dan banyak hal. Dedikasi yang sempurna untuk tanggung jawab dan kecintaan yang tulus pada kami, generasi muda, murid-muridnya. Pak Ketut, yang entah dimana dan bagaimana kondisi beliau sekarang, adalah orang pertama yang membuat mata saya terpesona pada gemerlap matematika dan sains. Bu Imas, meneruskan nyala pijar yang di pantik Pak Ketut. Dan Pak Djudju adalah cermin keseimbangan antara akal dan hati, antara keseriusan dan canda ria, antara iman dan logika. Terimaksih untuk kalian semua.
Kakek, Solihin. Inilah seseorang yang membuat saya tak sanggup berkata-kata keras apalagi kasar. Seandainya saya menjadi malaikat penjaga surga, maka beliau lah yang pertama kali akan saya masukkan kedalamnya. Beliau yang dengan kesederhaannya, ketika ia memahami alif, ia mengingatnya itu alif, ia membacanya itu alif, ia menggenggamnya itu alif dan pada malam-malam dalam keheningan ia berjingkat-jingkat seperti pencuri takut ketahuan,... mengamalkan alif.
Saya selalu mengingat kata-kata beliau: Ilmu yang bermanfaat adalah segala yang engkau tahu yang engkau amalkan di jalan Allah. Seperti engkau pergi kemasjid, menemukan paku, yang sepele tapi membahayakan, engkau tahu itu bisa saja terinjak orang, kemudian engkau buang, engkau singkirkan, maka pemahaman sederhanamu tentang paku yang berbahaya, itulah ilmu. Dan sangat baik sekali ketika engkau membuang paku dengan tangan kananmu, tangan kirimu tak perlu tahu, tak perlu pula engkau berbisik pada kaki bahwa hatimu berniat membawa mereka ke masjid.
Kawan dan saudara, banyak, tak terhingga. Mungkin salah satunya Anda. Orang-orang yang banyak memberi inspirasi kepada saya dan membuat semakin sadar bahwa saya adalah manusia seutuhnya. Memberi saya semangat dan kekuatan, menunjukan ilmu dan luasnya dunia, mengajari kesabaran dan kerendahan hati, memahami arti cita-cita dan harapan. Anda-anda makhluk luar biasa dengan segala kebaikan dan kemulian akhlak adalah orang-orang yang membuat hidup saya berarti dan semakin mengerti betapa beruntungnnya saya telah mengenal Anda semua. Terimaksih untuk Anda semua, semoga Allah memperkenankan saya membalas segala kebaikan Anda semua.